Senin, 28 Maret 2016

Singapore - Kuala Lumpur 3 Days 2 Nights (1)


Perjalanan kali ini saya yang diajak teman saya sebagai tourist guide hanya karena saya pernah ke Singapura sebelumnya. Tetapi masalahnya perjalanan saya ke Singapura sebelumnya itu tahun 2012, berarti sudah 4 tahun yang lalu. Selain saya sudah lupa, masalah lain adalah pertama kali saya ke Singapura semua itinerarynya bukan saya yang buat, saya tinggal cuss jalan aja. Jadi untuk mendetailnya saya tidak tahu hehehe..
Sebuah pengalaman penting juga mempersiapkan sebuah rencana perjalanan. Karena jujur saja, saya bukan tipe yang backpacker-an banget. Bukan yang gimana disana saja, let it flow. BIG NO!! Saya tidak suka jika saya pergi ke suatu tempat tanpa tahu tujuannya kemana. Jadi saya harus tahu, akan kemana dan ngapain aja disana. Masalah nanti pas sampai tempatnya semua rencana tidak berjalan sesuai jadwal, tidak masalah buat saya. Yang penting saya sudah punya bayangan seperti apa tempat yang akan saya singgahi. Ya bisa dibilang saya ini termasuk golongan flashpacker.
Karena diberikan amanah untuk mengelola semuanya, dari cari tiket pesawat, hotel, transport dan tiket atraksi disana. Maka rajin lah saya browsing-browsing dari internet. Untungnya saja berbekal ingatan masa lalu dan banyaknya blog-blog yang membahas perjalanan ke Singapore-KL, saya merasa tertolong sekali oleh salah satu blog teman saya travelatravela.blogspot.co.id.
Tetapi karena tujuan kita juga berbeda, tidak semua blog memberi informasi yang saya butuhkan. Begitu juga cerita saya ini sih ya hihihi...

Day 1, 27 February 2016

Kami naik pesawat Air Asia jam 7 pagi, berangkat dini hari dari rumah bareng tukang sayur mau belanja. Ternyata setelah tiba di terminal 3 Soekarno-Hatta sekitar jam 4 pagi, bandaranya sudah padat sekali. Sebenarnya kami sudah web check in sehari sebelumnya, jadi bisa santai tanpa harus ngantri lagi dibandara. Boarding jam 6.45, kami masih menunggu lama di bandara. Jadi ya sarapan dulu aja, jatuhnya sih kaya sahur ya hehehe...

"Welcome to Singapore"
Setelah flight sekitar 2 jam, sampailah kami di Terminal 1 Changi Airport. Menurut saya adalah bandara terkeren dan ternyaman dari semua bandara yang pernah saya singgahi (kaya udah pergi kebanyak tempat aja hehe).
Setelah melewati petugas imigrasi yang judes banget, berarti kami sudah sah untuk jalan-jalan di Singapura.
Kami langsung menuju ke terminal MRT Changi yang berada di Terminal 3 bandara Changi. Untuk menuju kesana, kita disediakan skytrain yang berfungsi sebagai shuttle penghubung  antar terminal di bandara.
Wuaaaaahhh,,, ternyata setelah 4 tahun berlalu tidak begitu banyak perubahan menurut saya. Masih nyaman dan mudah untuk bepergian di Singapura. Ada beberapa titik pembangunan sih di Changi sendiri, tetapi pastinya akan dibuat lebih nyaman lagi.
Setelah sampai di terminal 3 Changi, kami menuju stasiun MRT Changi untuk mengantri membeli kartu MRT. Sudah panjang antri di loket tiket, ternyata kita salah antri. Hadeeeuuuh.. Seharusnya kita mengantri di loket tiket di bangunan sebelahnya. Jadi lah kita naik tangga lagi (untung escalator hehe) nyebrang jembatan baru turun kebawah. Disana khusus pembelian tiket STP (Singapore Tourist Pass). STP ini kalau saya bilang sih tiket terusan transport di Singapore, tetapi hanya bisa digunakan untuk naik MRT dan bus saja. Tidak untuk taxi dan Sentosa Express. STP ini ada 3 jenis, untuk perjalanan selama 1 hari (16SGD), 2 hari (26SGD) dan 3 hari (30 SGD). Mahal?? Tenaaang itu termasuk kita deposit 10SGD yang nanti bisa di refund kok pas hari terakhir kartu STP ini akan expire. Kami membeli tiket STP untuk 2 hari. STP sudah ditangan, waktunya explore Singapore sepuasnyaaaa....
Ga usah beli map kalo ke Singapore, di bandara banyak map gratis hehehe..

Harga dan tempat refund STP


“Where are you our Hotel??”
Sistem transportasi di Singapore tidak usah diragukan lagi lah, sudah nyaman, tertib dan bersih. Informasi rute perjalanan pun sangat jelas, jadi tak perlu khawatir kepada para turis yang baru berkunjung kemari. Setelah mendapatkan STP kami langsung masuk ke stasiun MRT Changi menuju hotel kami di kawasan Bugis. Dari Changi kita perlu 1 kali transit di stasiun Tanah merah menuju stasiun Bugis yang berada di bawah Bugis Junction. Sesampainya di daerah Bugis, kami langsung mencari hotel kami. Karena ke-santai-an kami yang menganggap jika hotel kami mudah di cari, kami tidak mencari tahu dulu tepatnya dimana hotel kami. Ya sudah dapat ditebak kalau kami nyasar, berputar-putar mengelilingi Middle road, Victoria street dan hampir sampai daerah Bras Basah haha...
Bersyukur di Singapura kami bisa mendapatkan wifi gratis, ya walaupun sinyalnya antara ada dan tiada. Setidaknya sangat membantu untuk menemukan hotel kami, special thanks to Google Map. Karena ketika kami bertanya kepada orang-orang yang kami temui, semuanya tidak tahu alamat itu. Padahal ya setelah kami menemukan hotel kami, tempatnya sangat strategis sekali. Kami menginap di hotel Amaris, lokasinya sekitar 5 menit berjalan dari stasiun MRT Bugis. Berdekatan dengan Singapore National Library dan persis depan hotel ada halte bus, tetapi maaf saya lupa nama dan foto haltenya hehehe.. maafkeun... harga permalamnya juga standar, untuk smart room dengan kasur king size atau twin sekitar 1 juta rupiah. Kami harus menyimpan uang deposit sebesar 50SGD/kamar, lumayan yaaa.. Tetapi hari terakhir menginap dikembalikan hehehe.. Selain strategis, hotel amaris Bugis ini juga nyaman walaupun ruangannya sempit. Pegawainya yang sangat membantu, so far hotelnya bagus dan layak untuk diinapi.

“Bridge of nowhere”
Untungnya kami bisa early check in, jadi kami bisa menaruh tas ransel dan istirahat sejenak di kamar hotel. Dirasa sudah cukup beristirahat karena kelelahan berjalan muter-muter mencari hotel, perut sudah berontak minta diisi. Berjalan lah kami menuju Bugis Village, ada banyak tempat makan disana. Dan pilihan kami di restoran Qiji, salah satu restoran Halal di Bugis Village. Di restoran ini menjual makanan melayu seperti nasi lemak, laksa, mee rebus dan lain-lain. Awalnya saya memesan mee rebus, tapi karena ‘mba-mbanya’ salah dengar. Jadi lah saya diberikan nasi lemak seperti teman saya, karena sedang lapar ya terima saja lah. Untuk rasanya sih seperti nasi uduk, hanya isinya saja yang lengkap. 1 porsi nasi lemak seharga 5,3SGD dengan ice coffee seharga 2,1SGD standar lah sama seperti di Jakarta.
Perut sudah terisi, kami siap untuk memulai perjalanan muter-muter Singapore hehehe... tujuan pertama kami adalah Handersen Wave, itu lho yang jembatan naik turun meliuk liuk. Itu jembatan apa roller coaster? Berjalan lah kami menuju stasiun MRT Bugis untuk menuju ke  stasiun MRT Harborfront, kami harus transit 1 kali di stasiun MRT Outram Park. Setelah sampai di Harborfront, kami berjalan keluar melalui Exit C atau keluar dari Vivo City menuju halte bis yang ada di depan Vivo City. Nah kalau kalian mau ke Sentosa naik bis gratisnya, ya dari halte bis ini juga. Dari Vivo city lanjut naik bis no. 131 atau 145 dan turun di halte Handersen road yang kedua atau sebelum halte Telok Blangah. Atau kalau kalian bingung menghitung haltenya, perhatikan saja langit. Kalau kalian sudah masuk Handersen road, lalu bis berhenti di halte yang atasnya ada jembatan besar itu artinya kalian sudah sampai. Jangan seperti kami, karena mengikuti petunjuk salah 1 blog yang menulis turun di halte Telok Blangah. Nyasar deh hehehe... Sebenarnya dari halte Telok Blangah pun bisa sampai ke Handersen Wave, tetapi harus melalui jalan sepi seperti hutan. Itu informasi yang diberikan dari orang local disana kepada kami. Kami ikuti petunjuk penduduk sana, tetapi karena 2 orang penakut masuk hutan. Kejadian selanjutnya ya sudah pasti ketebak ya. Kami kembali kocar kacir lari keluar hutan itu, karena ke-paranoid-an kami merasa ada yang mengikuti kami. Akhirnya kami memutuskan untuk membatalkan kunjungan ke Handersen wave, drama kembali hadir setelah saya sadar bahwa kacamata saya jatuh di tengah hutan ketika kami foto-foto tadi. Dengan memberanikan diri kami kembali masuk ke hutan untuk mencari kacamata saya, untungnya ketemu daaaan tidak terinjak ketika kami lari tadi.. fiuuuhhh....
Karena kecewa tidak menemukan Handersen Wave, kami memutuskan untuk ke tempat selanjutnya dan menunggu bis no.131 atau 124 untuk kembali ke Vivo City. Setelah bis datang, saya naik tetapi dengan rasa kecewa yang mendalam karena gagal lagi ke Handersen wave. Bis kembali berjalan menyusuri jalan balik menuju Vivo City, ketika kami sampai di halte pertama halte Handersen road. Teman saya menunjukan jembatan besar di atas kami, jangan-jangan ini Handersen Wave. Jiwa petualang kami keluar, tanpa pikir panjang kami langsung keluar bis. Masalah nyasar lagi itu belakangan, toh kami pakai STP ini yang unlimited hehehe... daaaannn jengjeeeeng kami sampai ke HANDERSEN WAVE!!! Betapa bahagianya kami seperti menemukan harta karun, lupa sudah capeknya lari-lari keluar hutan, betenya nyasar, dan keselnya nunggu bis.
Handersen wave

Handersen Wave yang terlihat dari jalan raya dibawahnya

Road to Handersen Wave


“Hey!! we meet again!! :)
Setelah puas berjalan-jalan dan foto-foto pastinya di Handersen Wave, kami melanjutkan perjalanan ketempat selanjutnya. Tempat iconic Singapore, apalagi kalau bukan Merlion, Marina Bay dan kawan-kawannya. Dari Handersen Wave kami naik bis no.131 atau 124, dan turun di Harborfront. Kami masuk ke stasiun MRT harborfront menuju stasiun Raffles, menuju stasiun ini kami harus transit 1 kali di stasiun Outram Park. Tidak sampai 30 menit kami sudah sampai di stasiun Raffles, suasana sudah ramai sekali karena ya wajar saja. Ga ke Singapore kalau ga ke patung Singa katanya, ga tau juga sih kata siapa tepatnya hihihi...
Kami keluar dari stasiun MRT Rafless jalan melewati Singapore riverside dekat hotel Fullerton. Dan tempat ini adalah tempat favorit saya sejak pertama kali berkunjung ke Singapore 4 tahun lalu. Tempat ini adalah kawasan SCBD (Singapore central business distirct), banyak gedung-gendung pencakar langit tetapi diimbangi oleh pemandangan vintage. Betah lah nongkrong berlama-lama disana. Selain turis, sepertinya sedang ada acara wisuda di Hotel Fullerton. Iri bisa wisudaan di Singapur hehehe.. Dan FYI, wisudaan disana hanya dandan biasa dan pakai dress biasa juga. Ga kaya disini dandannya ngalah-ngalahin orang mau nikah, subuh udah ngantri salon hahaha....

Singapore riverside. Selalu suka disini..

Itu cuma patung hehe..
Kami berjalan menyusuri pinggir sungai menuju Merlion, tak lupa wefie dan selfie tentunya. Dan menghabiskan sisa hari di kawasan ini. Setelah puas di Merlion kami menikmati malam minggu di sekitaran Esplanade. Untuk menuju ke Esplanade bisa jalan kaki menyebrangi jembatan yang menghubungkan dari merlion ke Esplanade. Di Esplanade ini ada live music, jadi tambah asik buat yang suka nongkrong-nongkrong cantik. Ditambah dengan pemandangan keren ala-ala ibukota, plus suguhan gratis dancing fountain (kalau ga salah namanya, pokoknya air mancur menari yang pakai lampu-lampu gitu) yang kelihatan dari Marina Bay sand. Ah rasanya ga mau pulang kalau belum capek dan tiap weekend bisa kesini hohoho...

Kawasan Merlion

Katanya belum ke Singapore kalau belum ke patung singa ini hehe...

Night at Singapore City



Tidak ada komentar:

Posting Komentar