Perjalanan kali ini saya yang diajak teman saya
sebagai tourist guide hanya karena saya pernah ke Singapura sebelumnya. Tetapi
masalahnya perjalanan saya ke Singapura sebelumnya itu tahun 2012, berarti
sudah 4 tahun yang lalu. Selain saya sudah lupa, masalah lain adalah pertama
kali saya ke Singapura semua itinerarynya bukan saya yang buat, saya tinggal
cuss jalan aja. Jadi untuk mendetailnya saya tidak tahu hehehe..
Sebuah pengalaman penting juga mempersiapkan
sebuah rencana perjalanan. Karena jujur saja, saya bukan tipe yang
backpacker-an banget. Bukan yang gimana disana saja, let it flow. BIG NO!! Saya
tidak suka jika saya pergi ke suatu tempat tanpa tahu tujuannya kemana. Jadi
saya harus tahu, akan kemana dan ngapain aja disana. Masalah nanti pas sampai tempatnya
semua rencana tidak berjalan sesuai jadwal, tidak masalah buat saya. Yang
penting saya sudah punya bayangan seperti apa tempat yang akan saya singgahi.
Ya bisa dibilang saya ini termasuk golongan flashpacker.
Karena diberikan amanah untuk mengelola semuanya,
dari cari tiket pesawat, hotel, transport dan tiket atraksi disana. Maka rajin
lah saya browsing-browsing dari internet. Untungnya saja berbekal ingatan masa
lalu dan banyaknya blog-blog yang membahas perjalanan ke Singapore-KL, saya
merasa tertolong sekali oleh salah satu blog teman saya travelatravela.blogspot.co.id.
Tetapi karena tujuan kita juga berbeda, tidak
semua blog memberi informasi yang saya butuhkan. Begitu juga cerita saya ini
sih ya hihihi...
Day 1, 27 February 2016
Kami naik pesawat Air Asia jam 7 pagi, berangkat dini hari dari rumah bareng tukang sayur mau belanja. Ternyata setelah tiba di terminal 3 Soekarno-Hatta sekitar jam 4 pagi, bandaranya sudah padat sekali. Sebenarnya kami sudah web check in sehari sebelumnya, jadi bisa santai tanpa harus ngantri lagi dibandara. Boarding jam 6.45, kami masih menunggu lama di bandara. Jadi ya sarapan dulu aja, jatuhnya sih kaya sahur ya hehehe...
"Welcome to Singapore"
Setelah flight sekitar 2 jam, sampailah kami di Terminal
1 Changi Airport. Menurut saya adalah bandara terkeren dan ternyaman dari semua
bandara yang pernah saya singgahi (kaya udah pergi kebanyak tempat aja hehe).
Setelah melewati petugas imigrasi yang judes
banget, berarti kami sudah sah untuk jalan-jalan di Singapura.
Kami langsung menuju ke terminal MRT Changi yang
berada di Terminal 3 bandara Changi. Untuk menuju kesana, kita disediakan
skytrain yang berfungsi sebagai shuttle penghubung antar terminal di
bandara.
Wuaaaaahhh,,, ternyata setelah 4 tahun berlalu
tidak begitu banyak perubahan menurut saya. Masih nyaman dan mudah untuk
bepergian di Singapura. Ada beberapa titik pembangunan sih di Changi sendiri,
tetapi pastinya akan dibuat lebih nyaman lagi.
Setelah sampai di terminal 3 Changi, kami menuju
stasiun MRT Changi untuk mengantri membeli kartu MRT. Sudah panjang antri di
loket tiket, ternyata kita salah antri. Hadeeeuuuh.. Seharusnya kita mengantri
di loket tiket di bangunan sebelahnya. Jadi lah kita naik tangga lagi (untung
escalator hehe) nyebrang jembatan baru turun kebawah. Disana khusus pembelian
tiket STP (Singapore Tourist Pass). STP ini kalau saya bilang sih tiket terusan
transport di Singapore, tetapi hanya bisa digunakan untuk naik MRT dan bus
saja. Tidak untuk taxi dan Sentosa Express. STP ini ada 3 jenis, untuk
perjalanan selama 1 hari (16SGD), 2 hari (26SGD) dan 3 hari (30 SGD). Mahal??
Tenaaang itu termasuk kita deposit 10SGD yang nanti bisa di refund kok pas hari
terakhir kartu STP ini akan expire. Kami membeli tiket STP untuk 2 hari. STP
sudah ditangan, waktunya explore Singapore sepuasnyaaaa....
![]() |
| Ga usah beli map kalo ke Singapore, di bandara banyak map gratis hehehe.. |
![]() |
| Harga dan tempat refund STP |
“Where are
you our Hotel??”
Sistem transportasi di Singapore tidak usah
diragukan lagi lah, sudah nyaman, tertib dan bersih. Informasi rute perjalanan
pun sangat jelas, jadi tak perlu khawatir kepada para turis yang baru
berkunjung kemari. Setelah mendapatkan STP kami langsung masuk ke stasiun MRT
Changi menuju hotel kami di kawasan Bugis. Dari Changi kita perlu 1 kali
transit di stasiun Tanah merah menuju stasiun Bugis yang berada di bawah Bugis
Junction. Sesampainya di daerah Bugis, kami langsung mencari hotel kami. Karena
ke-santai-an kami yang menganggap jika hotel kami mudah di cari, kami tidak
mencari tahu dulu tepatnya dimana hotel kami. Ya sudah dapat ditebak kalau kami
nyasar, berputar-putar mengelilingi Middle road, Victoria street dan hampir
sampai daerah Bras Basah haha...
Bersyukur di Singapura kami bisa mendapatkan wifi
gratis, ya walaupun sinyalnya antara ada dan tiada. Setidaknya sangat membantu
untuk menemukan hotel kami, special thanks to Google Map. Karena ketika kami
bertanya kepada orang-orang yang kami temui, semuanya tidak tahu alamat itu.
Padahal ya setelah kami menemukan hotel kami, tempatnya sangat strategis
sekali. Kami menginap di hotel Amaris, lokasinya sekitar 5 menit berjalan dari
stasiun MRT Bugis. Berdekatan dengan Singapore National Library dan persis
depan hotel ada halte bus, tetapi maaf saya lupa nama dan foto haltenya hehehe..
maafkeun... harga permalamnya juga standar, untuk smart room dengan kasur king
size atau twin sekitar 1 juta rupiah. Kami harus menyimpan uang deposit sebesar
50SGD/kamar, lumayan yaaa.. Tetapi hari terakhir menginap dikembalikan hehehe..
Selain strategis, hotel amaris Bugis ini juga nyaman walaupun ruangannya
sempit. Pegawainya yang sangat membantu, so far hotelnya bagus dan layak untuk
diinapi.
“Bridge of
nowhere”
Untungnya kami bisa early check in, jadi kami
bisa menaruh tas ransel dan istirahat sejenak di kamar hotel. Dirasa sudah
cukup beristirahat karena kelelahan berjalan muter-muter mencari hotel, perut
sudah berontak minta diisi. Berjalan lah kami menuju Bugis Village, ada banyak
tempat makan disana. Dan pilihan kami di restoran Qiji, salah satu restoran
Halal di Bugis Village. Di restoran ini menjual makanan melayu seperti nasi
lemak, laksa, mee rebus dan lain-lain. Awalnya saya memesan mee rebus, tapi
karena ‘mba-mbanya’ salah dengar. Jadi lah saya diberikan nasi lemak seperti
teman saya, karena sedang lapar ya terima saja lah. Untuk rasanya sih seperti
nasi uduk, hanya isinya saja yang lengkap. 1 porsi nasi lemak seharga 5,3SGD
dengan ice coffee seharga 2,1SGD standar lah sama seperti di Jakarta.
Perut sudah terisi, kami siap untuk memulai perjalanan
muter-muter Singapore hehehe... tujuan pertama kami adalah Handersen Wave, itu
lho yang jembatan naik turun meliuk liuk. Itu jembatan apa roller coaster?
Berjalan lah kami menuju stasiun MRT Bugis untuk menuju ke stasiun MRT Harborfront, kami harus transit 1
kali di stasiun MRT Outram Park. Setelah sampai di Harborfront, kami berjalan
keluar melalui Exit C atau keluar dari Vivo City menuju halte bis yang ada di
depan Vivo City. Nah kalau kalian mau ke Sentosa naik bis gratisnya, ya dari
halte bis ini juga. Dari Vivo city lanjut naik bis no. 131 atau 145 dan turun
di halte Handersen road yang kedua atau sebelum halte Telok Blangah. Atau kalau
kalian bingung menghitung haltenya, perhatikan saja langit. Kalau kalian sudah
masuk Handersen road, lalu bis berhenti di halte yang atasnya ada jembatan
besar itu artinya kalian sudah sampai. Jangan seperti kami, karena mengikuti
petunjuk salah 1 blog yang menulis turun di halte Telok Blangah. Nyasar deh
hehehe... Sebenarnya dari halte Telok Blangah pun bisa sampai ke Handersen Wave,
tetapi harus melalui jalan sepi seperti hutan. Itu informasi yang diberikan
dari orang local disana kepada kami. Kami ikuti petunjuk penduduk sana, tetapi
karena 2 orang penakut masuk hutan. Kejadian selanjutnya ya sudah pasti ketebak
ya. Kami kembali kocar kacir lari keluar hutan itu, karena ke-paranoid-an kami
merasa ada yang mengikuti kami. Akhirnya kami memutuskan untuk membatalkan
kunjungan ke Handersen wave, drama kembali hadir setelah saya sadar bahwa
kacamata saya jatuh di tengah hutan ketika kami foto-foto tadi. Dengan
memberanikan diri kami kembali masuk ke hutan untuk mencari kacamata saya,
untungnya ketemu daaaan tidak terinjak ketika kami lari tadi.. fiuuuhhh....
Karena kecewa tidak menemukan Handersen Wave,
kami memutuskan untuk ke tempat selanjutnya dan menunggu bis no.131 atau 124
untuk kembali ke Vivo City. Setelah bis datang, saya naik tetapi dengan rasa
kecewa yang mendalam karena gagal lagi ke Handersen wave. Bis kembali berjalan
menyusuri jalan balik menuju Vivo City, ketika kami sampai di halte pertama
halte Handersen road. Teman saya menunjukan jembatan besar di atas kami,
jangan-jangan ini Handersen Wave. Jiwa petualang kami keluar, tanpa pikir
panjang kami langsung keluar bis. Masalah nyasar lagi itu belakangan, toh kami
pakai STP ini yang unlimited hehehe... daaaannn jengjeeeeng kami sampai ke
HANDERSEN WAVE!!! Betapa bahagianya kami seperti menemukan harta karun, lupa
sudah capeknya lari-lari keluar hutan, betenya nyasar, dan keselnya nunggu bis.
“Hey!! we
meet again!! :)”
Setelah puas berjalan-jalan dan foto-foto
pastinya di Handersen Wave, kami melanjutkan perjalanan ketempat selanjutnya.
Tempat iconic Singapore, apalagi kalau bukan Merlion, Marina Bay dan
kawan-kawannya. Dari Handersen Wave kami naik bis no.131 atau 124, dan turun di
Harborfront. Kami masuk ke stasiun MRT harborfront menuju stasiun Raffles,
menuju stasiun ini kami harus transit 1 kali di stasiun Outram Park. Tidak
sampai 30 menit kami sudah sampai di stasiun Raffles, suasana sudah ramai sekali
karena ya wajar saja. Ga ke Singapore kalau ga ke patung Singa katanya, ga tau
juga sih kata siapa tepatnya hihihi...
Kami keluar dari stasiun MRT Rafless jalan
melewati Singapore riverside dekat hotel Fullerton. Dan tempat ini adalah
tempat favorit saya sejak pertama kali berkunjung ke Singapore 4 tahun lalu.
Tempat ini adalah kawasan SCBD (Singapore central business distirct), banyak
gedung-gendung pencakar langit tetapi diimbangi oleh pemandangan vintage. Betah
lah nongkrong berlama-lama disana. Selain turis, sepertinya sedang ada acara
wisuda di Hotel Fullerton. Iri bisa wisudaan di Singapur hehehe.. Dan FYI,
wisudaan disana hanya dandan biasa dan pakai dress biasa juga. Ga kaya disini
dandannya ngalah-ngalahin orang mau nikah, subuh udah ngantri salon hahaha....
![]() |
| Singapore riverside. Selalu suka disini.. |
![]() |
| Itu cuma patung hehe.. |
Kami berjalan menyusuri pinggir sungai menuju
Merlion, tak lupa wefie dan selfie tentunya. Dan menghabiskan sisa hari di
kawasan ini. Setelah puas di Merlion kami menikmati malam minggu di sekitaran
Esplanade. Untuk menuju ke Esplanade bisa jalan kaki menyebrangi jembatan yang
menghubungkan dari merlion ke Esplanade. Di Esplanade ini ada live music, jadi
tambah asik buat yang suka nongkrong-nongkrong cantik. Ditambah dengan
pemandangan keren ala-ala ibukota, plus suguhan gratis dancing fountain (kalau
ga salah namanya, pokoknya air mancur menari yang pakai lampu-lampu gitu) yang
kelihatan dari Marina Bay sand. Ah rasanya ga mau pulang kalau belum capek dan
tiap weekend bisa kesini hohoho...
![]() |
| Kawasan Merlion |
![]() |
| Katanya belum ke Singapore kalau belum ke patung singa ini hehe... |
![]() |
| Night at Singapore City |










